
Saat hidup terasa berat, mungkin bukan semangat yang hilang — hanya hati yang sedang butuh diingatkan untuk percaya pada janji Allah. Pelan saja, terus perbaiki diri.. karena setiap lelah yang kita tahan, sedang Allah tukar dengan kebaikan yang tak terkira. 🌿
Oleh : J. Solin
Ada kalanya hidup terasa begitu berat. Seolah semua doa belum kunjung dijawab, usaha seperti tak dihargai, dan hati mulai bertanya: “Apakah kita masih sanggup bertahan?” Saat-saat seperti itu, kita sadar, mungkin bukan semangat yang hilang, namun hati kita yang sedang membutuhkan pelukan nasehat.
Kita mulai belajar menerima bahwa menjadi lemah bukan berarti kalah. Justru di titik lemah itulah Allah sering kali mendekatkan pertolongan-Nya. Karena itu, kita mengingatkan diri kita masing-masing untuk jangan malu merasa lelah, tetapi jangan pula berhenti untuk bangkit dan memperbaiki diri.
Kita mencoba menata napas, mengingat kembali ayat Allah yang begitu menenangkan: “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5). Bukan setelah, tapi bersama. Artinya, saat diuji, sebenarnya kemudahan itu sudah ikut berjalan berdampingan. Mungkin bentuknya bukan uang atau jabatan, tapi kesempatan untuk lebih kuat, lebih sabar, lebih dekat dengan-Nya.
Dalam perjalanan memperbaiki diri, sering kali kita terpeleset oleh harapan orang lain. Kita sibuk membuktikan diri, mengejar pengakuan, sampai lupa bahwa tujuan utama hanyalah mencari ridha Allah. Maka perlahan kita belajar — biar saja berjalan pelan, asalkan tetap menapak menuju kebaikan. Karena Allah tak menilai seberapa cepat kita sampai, tapi seberapa sungguh kita melangkah.
Kita tahu, memperbaiki diri bukan perkara sehari. Kadang kita semangat, kadang juga ingin menyerah. Tapi yakin, selama kita mau kembali ke Allah, pintu-Nya selalu terbuka. Itulah indahnya menjadi seorang hamba: sekalipun berkali-kali gagal, Allah tak pernah bosan memberiku peluang untuk memulai ulang.
Saat hati terasa kecil menghadapi masalah besar kita haru yakin bahwa: “Tenang, Allah lebih besar dari segala yang membuatmu takut.” Maka rangkai ulang semangat kita — bukan agar semua terasa mudah, tapi supaya kita tetap kuat meski keadaan tak berubah cepat. Karena bisa jadi, perlahan-lahan Allah sedang mengganti sakit menjadi hikmah, tangis menjadi pahala, dan lelah menjadi penebus dosa.
Dalam proses memperbaiki diri, kita juga ingin belajar ikhlas. Ikhlas bukan berarti berhenti berusaha, tapi membiarkan hati percaya bahwa hasil akhirnya adalah urusan Allah. Tugas kita hanyalah terus melangkah, menyandarkan segala harapan kepada-Nya, dan tidak menyimpan kecewa bila ternyata yang terjadi tak seperti rencana.
Kita juga belajar membesarkan hati. Mengingatkan diri bahwa cobaan tidak datang untuk menjatuhkan, tetapi untuk menaikkan level keimanan. Layaknya seorang murid, makin tinggi kelasnya, makin sulit ujian yang harus dihadapi. Dan bila lulus, ganjarannya tentu lebih istimewa. Semoga kita bisa termasuk hamba yang lulus dengan sabar, bukan yang menyerah di tengah jalan.
Maka, jika hari ini hati kita sedang rapuh, hendaknya kita berbaik sangka bahwa Allah sedang menyusun kejutan tak terduga. Kita hanya perlu menjaga doa, memperbaiki niat, menata ulang langkah, dan terus berusaha menjadi versi diri kita yang lebih baik dari kemarin. Meski pelan, yang penting berjalan. Meski jatuh, yang penting mau bangkit.
Akhirnya, kita menggantungkan harapan pada Sang Pemilik Kehidupan: Ya Allah, kuatkan aku untuk tetap berada di jalan-Mu, lapangkan dadaku saat Kau uji, hidupkan semangatku untuk terus memperbaiki diri, dan jadikan hatiku besar dalam percaya pada janji-Mu. Karena pada akhirnya, bukan tentang seberapa berat cobaan itu, tapi seberapa kita mau bertahan untuk dekat pada-Nya. 🌿